
SILATURAHMI : Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, dan sejumlah tokoh bersilaturahmi usai Ritual Adat Naik Jurongk Tinggi di Balai Kepatihan, Rabu (8/10) kemarin
KETAPANG, MENITNEWS.id – Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, melakukan diskusi dengan sejumlah tokoh penting, Rabu (8/10). Mulai dar Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, anggota DPR RI, Cornelis, Wakil Bupati Kabupaten Sanggau, hingga Bupati Sukamara, Masduki.
Pertemuan yang dilaksanakan usai Ritual Adat Naik Jurongk Tinggi ini menjadi wadah untuk mempererat hubungan sekaligus membahas sinergi pembangunan lintas daerah demi kemajuan Kabupaten Ketapang.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan generasi muda.
“Di tangan kita masing-masing, di handphone kita, ada 50 persen surga, 50 persen neraka. Semua tergantung bagaimana kita menggunakannya. Jika dipakai dengan bijak, teknologi bisa menjadi jalan menuju kemajuan. Tapi jika salah digunakan, justru bisa merusak,” tegasnya.
Dia mengingatkan, kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari akar budaya. Pelestarian adat istiadat dan nilai luhur warisan leluhur harus berjalan beriringan dengan modernisasi.
Menurutnya, pembangunan di Kalimantan Barat harus berkeadilan, tidak hanya menekankan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat budaya, dan memastikan kesejahteraan masyarakat adat.
“Pembangunan infrastruktur, literasi digital, dan pelestarian budaya adalah tiga pilar penting yang harus sejalan. Tanpa keseimbangan, pembangunan bisa timpang. Tapi jika ketiganya diperkuat, maka Ketapang dan Kalimantan Barat akan mampu melompat lebih maju dengan tetap berakar pada jati diri lokal,” ungkapnya.
Sementara itu, Cornelis, Gubernur Kalimantan Barat periode 2008–2018 sekaligus Anggota DPR RI Komisi XII, menekankan pentingnya pendidikan sebagai investasi utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Secara khusus dia menyoroti akses pendidikan bagi anak-anak di pedalaman yang harus menjadi prioritas.
“Anak-anak di pedalaman berhak mendapat pendidikan yang layak agar mereka mampu keluar dari keterbatasan. Peningkatan kualitas SDM tidak bisa ditunda, sebab hanya dengan SDM unggul kita dapat mengelola sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Cornelis, Kalimantan memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun pengelolaannya harus disertai dengan kualitas SDM yang mumpuni agar hasilnya benar-benar memberikan kesejahteraan bagi masyarakat lokal, bukan hanya segelintir pihak.
Dia juga menekankan pentingnya pendidikan vokasi, keterampilan, serta penguatan nilai budaya dalam proses pembangunan.
Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena, menyampaikan apresiasi atas keberadaan Sekolah Rakyat di Kabupaten Ketapang. Dia telah melakukan kunjungan langsung untuk melihat pola pendidikan alternatif berbasis masyarakat tersebut, dan menyatakan bahwa model serupa akan segera dipersiapkan untuk dikembangkan di Kabupaten Sanggau.
“Sekolah Rakyat menjadi inspirasi nyata bagaimana pendidikan bisa menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk di pedalaman,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Sukamara, Masduki, berterima kasih atas pertemuan yang berlangsung hangat dan produktif, khususnya dalam membahas pembangunan jembatan serta akses jalan penghubung Ketapang-Sukamara yang menjadi prioritas bersama untuk membuka keterisolasian wilayah dan memperlancar arus barang serta jasa.
Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, berterima kasih atas tokoh-tokoh yang hadir ke Ketapang. “Pertemuan ini menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong, di mana infrastruktur, pendidikan, literasi digital, sosial budaya, sumber daya alam, dan konektivitas antarwilayah menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Ketapang yang maju, berbudaya, dan berdaya saing,” ungkap Alex. (*)
